Thursday, October 16, 2014

Mencabut Duri Dalam Daging

Untuk Joko  Widodo,
            
Semenjak diberi mandat sebagai calon Presiden dari PDIP, saya yakin hari-hari anda dipenuhi oleh pikiran-pikiran baik bagi Republik. Hari jadi sibuk bagaimana memikirkan agar Anto dapat sekolah, Andra dapat pekerjaan yang layak selepas lulus kuliah, atau memikirkan Intan yang kebingungan karena harga kebutuhan pokok naik terus. Melelahkan memang ketika harus merumuskan rencana baik bagi bangsa, berkampanye sekaligus menangkal fitnah yang lebih sering tak masuk diakal. Mungkin itulah ujian yang harus ditanggung bagi seorang calon pemimpin Republik.
            

Friday, May 23, 2014

Menjaga Demokrasi

Pemilu 2014 kian dekat. Pertarungan politik bahkan sudah dimulai, paling tidak pertarungan psikologis antar-elite politik. Partai – partai sudah menyusun agenda. Sebagian telah siap. Sebagian lain masih perlu berkonsolidasi. Partai mana yang paling berpeluang. Semua masih tanda tanya. Masing-masing memiliki konstituen tradisionalnya sendiri-sendiri. Namun, peralihan suara masih terbuka. Sejarah memang sarat dengan kejutan dan patahan.

Asian Miracle

Kurang dari satu tahun lagi Indonesia akan mengikuti Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang merupakan bentuk dari perdagangan dan persaingan bebas diantara negara – negara ASEAN. Kesiapan pemerintah untuk mengikuti MEA masih dipertanyakan terutama terkait dengan kesiapan persaingan dibeberapa bidang seperti kesehatan dan pariwisata, dan juga yang tak kalah penting proteksi terhadap pengangguran agar terus bisa bersaing dalam MEA.

Wednesday, May 14, 2014

Penentu Demokrasi Kita

Momen mendebarkan baru saja usai, Komisi Pemilihan Umum telah mengumumkan bahwa pemenang Pemilu Legislatif 2014 adalah PDI-Perjuangan dengan total suara 18,95%. Dalam suasana menuju pendaftaran calon presiden pantaslah bagi kita untuk bertanya: apa yang terjadi jika pemilu yang mahal ini tidak menghasilkan pemimpin yang kita harapkan?

Thursday, October 18, 2012

Kampus

Kalian yang menyandang gelar mahasiswa pada hari ini sesungguhnya adalah golongan yang beruntung, beruntung karena uang orang tua kalian bisa mengongkosi sumbangan gedung, sumbangan sukarela, dan bentuk sumbangan lainnya. Dan juga beruntung karena kalian bisa lulus dari ujian nasional.
                      

Wednesday, October 17, 2012

Surat Terbuka Untuk Reza A. Bhaktinagara


        Sdr Reza,

Saya yakin, hari ini adalah hari yang riuh bagi anda. Hari dimana anda berjibaku dengan panas, kemudian digiring ke kantor polisi, setelah itu semua, anda masih harus mengahadapi suara – suara yang berbeda atas apa yang hari ini anda lakukan. Tentu sangat melelahkan bagi anda, tapi saya yakin anda senang melakukannya, seperti yang anda tulis di account twitter anda :

Sunday, October 14, 2012

Mengaktifkan Politik Akal Sehat


Pesimisme menghantui kondisi demokrasi kita hari – hari belakangan ini. Dan republik telah dikelola oleh politik akal miring. Hal ini karena politik tidak diselenggarakan di ruang publik, tetapi ditransaksikan secara personal. Tukar tambah kekuasaan berlangsung bukan atas dasar kalkulasi ideologis, kita tak lagi melihat sekat ideologis antar partai, seolah – olah kini hanya ada satu partai dengan berbagai cabang : cabang Demokrat, cabang Golkar, cabang PKS, dan lain sebagainya. Padahal sesungguhnya politik adalah transaksi ide, yang kemudian diucapkan sebagai ideologi guna melatih kecerdasan publik.

Friday, October 12, 2012

Refleksi Gerakan Mahasiswa


Postera crescam laude, saya akan bekerja untuk generasi mendatang
(Semboyan Universitas Melbourne)

Indonesia seharusnya berterima kasih kepada para mahasiswa dimasa lalu. Pada saat kondisi dan situasi masyarakat mengalami keresahan sosial (social unrest) yang memuncak, golongan mahasiswa yang sebelumnya “disia-siakan”, turun ke jalan untuk menuntut perubahan pada penguasa. Hal itu menciptakan premis mayor bahwa kemunculan gerakan mahasiswa ditandai dengan peristiwa sejarah tertentu, yang merupakan muara dari berbagai macam permasalahan. Kemunculan pemuda angkatan 1908, 1928, 1945, 1966, 1974, 1978, 1990 dan 1998 mengiringi kelahiran sebuah konstruk peristiwa historis tertentu yang menentukan perjalanan sejarah Indonesia.

Friday, February 3, 2012

Tan Malaka

‘Saya harus angkat bicara, untuk jutaan rakyat tertindas di Timur’ suara tegas itu lahir dari mulut Tan Malaka di Moskwa saat konferensi Komunis Internasional (Komintern). Tan Malaka adalah legenda hidup zaman pergerakan. Namanya terkenal di kalangan kaum nasionalis Indonesia. Karya-karyanya, seperti Naar de Republiek Indonesia (1925) dan Massa Actie (1926) menjadi bacaan di kalangan aktivis pergerakan tidak terkecuali buat Sukarno. Perbincangan tentangnya diselang-selingi bumbu beraroma mitos. Ia tokoh yang masyhur, pahlawan nasional yang sempat dilupakan selama bertahun-tahun dan kini namanya mulai disebut dimana-mana.

Wednesday, January 18, 2012

Faisal


Faisal kini muncul, kata ini seolah menjadi altenatif di tengah kesemrawutan. Ia maju sebagai calon gubernur DKI Jakarta. Bagi Faisal, politik adalah sebuah tugas sedih , berusaha menegakkan keadilan di dunia yang penuh dosa. Terjun ke politik bukanlah keinginan, tapi merupakan sesuatu hal yang tak terhindarkan, dan ini berlaku bagi seluruh intelektual publik - seseorang yang dengan tulisan dan ucapannya berbicara ke orang ramai, menjelaskan apa yang sebaiknya dan yang tak sebaiknya terjadi bagi kehidupan bersama.

Sunday, November 20, 2011

Ketika Tak Ada Lagi Revolusi

Untuk para buruh di Papua, Jakarta, Palembang, dan seluruh pelosok Negeri. Kalian tidak   sedang bermimpi, tapi justru tengah bangun dari mimpi buruk

Banyak sejumlah pemikir murung yang berbicara tentang manusia dan kehidupan, mereka berkata kini tak ada lagi harapan, manusia telah menjadi subyek. Kapitalisme telah merasuk kemana – mana pada abad ke-21 ini, segala lini kehidupan telah dirasuki ‘Sang Modal Besar’. 

Monday, November 14, 2011

Globalisasi, Pancasila, dan Yang Lainnya

Kita sekarang hidup di zaman yang makin menyadari kemajuan teknologi. Lalu lintas global dibiarkan menembus garis perbatasan Nasional. Pertama – tama meluasnya informasi, lalu pergeseran nilai sosial, modernitas, kemudian kemajuan yang mempengaruhi ekonomi Negara. Globalisasi yang tak terbendung, dan memang tak bisa dibendung ini menghasilkan kontradiksi. Ia telah menjadi sebuah kehidupan sosial baru yang tidak selamanya baik dan memang tidak sepenuhnya buruk.

Thursday, November 10, 2011

Demokrasi

Demokrasi adalah anak kandung dari reformasi, dia lahir dari proses persalinan yang sulit, dengan darah di kampus Trisakti, Atmajaya, dan berbagai sudut jalan Republik. Demokrasi melahirkan sebuah konstitusi yang mengatur kebebasan berpendapat, hak – hak individu terjamin, proses pemilihan langsung presiden  dan pergantian yang regular, dan berbagai hal yang melepaskan kita dari para Opsir Revolusi yang menjadi diktatoral. Tapi, setelah 12 tahun berjalan – mungkin tengah remaja, demokrasi mulai dipertanyakan.

Sunday, October 23, 2011

Sebuah Nota Pendek

Ada sebuah kecurigaan atau rasa was was, ketika golongan hadir menjadi momok, ketika kebenaran menjadi sebuah pemburuan yang sulit. Kita curiga setiap ada pembicaraan, perkumpulan, atau mungkin pergerakan “Jangan – jangan itu organisasinya si Anu, jangan – jangan si Anu mau jadi Presiden BEM, jangan – jangan si Anu . . . . . ”

Wednesday, October 5, 2011

Pancasila Itu, Tidaklah Sakti

Selalu menarik membicarakan Pancasila, sebuah ideologi bangsa kita yang katanya sakti ini. Saya yang sejak lahir hidup di tanah tumpah darah ini tak pernah sekalipun berfikir untuk tak terpaut dengan Pancasila atau lupa tentang Pancasila. Pancasila hadir melalui teks, merajuk ke dalam tabula paling dalam, ia kekal disana. Namun, beberapa hari lalu, dalam mata kuliah Bisnis dan Politik, seorang asisten Dosen mengusik tabula itu, apa sebenarnya Pancasila itu ? Pertanyaan ini tentu mengetuk, mengusik, dan selalu menarik untuk dijawab, apalagi setelah itu kita, Indonesia, memperingati hari kesaktian Pancasila pada  1 Oktober.

Wednesday, September 28, 2011

Tanpa Label


“Komunis adalah Racun !” Begitu kata sebagian teman mahasiswa saya, mereka mengatakan andai saja bukan Pramoedya Ananta Toer yang dipenjara atau kurang lebih 500 ribu orang lebih yang diduga Komunis atau Kiri yang dibunuh, maka Pramoedya Ananta Toer lah yang akan menggebuk para penulis Manifesto Kebudayaan atau kaum komunislah yang akan menghabisi mereka yang bukan komunis. Mereka yang mengatakan hal seperti itu bukan lagi para antek orde baru, mereka bahkan orang yang sangat kritis dan sadar akan kekejaman pemerintahan Orde Baru, inilah yang sedikit mengusik saya.

Lembing


Aku mulai tidak mengerti tentang kata

Kata yang mengandung  dusta & fitnah
Kata telah berubah menjadi jerat yang menggebuk
Hari ini . . . 
Adalah hari dimana kata telah menjadi lembing


Dan ketika itu terjadi
Gelap akan berganti kelam
Aku tak takut gelap,  karena itu bagian dari hidup
Tapi aku takut kelam
Kelam adalah memandang gelap yg mutlak
kelam adalah menyerah, kelam adalah putus asa, kelam adalah hilang, kelam adalah jera


Dan saat kata telah menjadi lembing
Kita membekukan segala yang mungkin
Kita telah gagal memburu arti karena kita takut pada ketidakpastian


Semarang, 20 September 2011

Monday, August 29, 2011

Yang Hilang

Reformasi telah lewat, perubahan besar  itu terjadi 13 tahun yang lalu namun hingga kini masih menyisakan luka sejarah yang dalam terutama bagi mereka yang hilang, mungkin sebagian orang sudah lupa dengan Wiji Thukul, ia hilang dan tak pernah kembali, mungkin orang banyak sudah lupa akan kejadian itu, orang mungkin bahkan lupa ada nama itu, nama seorang yang diculik, terutama karena Wiji Thukul tak dikenal luas. Saya juga tak mengenalnya betul—dan memang tak harus mengenalnya betul.

Saturday, August 27, 2011

Yang Dulu Disembah

-                            -    Kepada elite politik yang tengah memegang kekuasaan


Para elite politik yang tengah memegang kekuasaan, lihatlah:  bangsa ini bukan sebuah dongeng.

Kita terdiri dari tubuh, jiwa, roh, tanah, dan air, dengan impian, fantasi, rasa kurang, bangga, hasrat punya harga diri, nafsu untuk jadi kaya dan bermartabat atau jadi orang sederhana saja. Kita manusia yang pandai mengekspresikan kebaikan hati, kepintaran, tapi juga ketololan dan kekejian. Kita menyimpan kekuatan otot dan juga rasa sakit dari cacingan sampai dengan flu burung. Kita bukan peri.

Sunday, August 21, 2011

Nasionalisme


Desember  1817, Thomas Matulessy, atau yang lebih flamboyan dengan sebutan Kapitan Pattimura, digantung di benteng Victoria, ia menggadaikan jiwanya untuk sebuah harapan : “Indonesia Merdeka”

Terkadang saya berpikir, apa gerangan yang ada dalam pikiran Kapitan Pattimura beberapa saat sebelum digantung. Kadang-kadang saya ingin membayangkan, ia menyebut nama ”Indonesia” di bibirnya, atau ”Indonesia merdeka”, tapi tentu saja ini satu imajinasi klise, dan sebab itu tiap kali muncul cepat-cepat saya stop. Bukan mustahil ia ketakutan di depan algojo pasukan pendudukan Belanda itu. Atau ia pasrah? Yang agaknya pasti, beberapa puluh menit, atau beberapa puluh detik kemudian, seluruh ketakutan (atau sikap pasrah, atau jangan-jangan kecongkakan yang tampil seperti keberanian) pun punah: Tali itu membekap lehernya. Jantung berhenti berdetak, ia roboh, tak akan pernah berjuang lagi.