Showing posts with label Tokoh. Show all posts
Showing posts with label Tokoh. Show all posts

Friday, February 3, 2012

Tan Malaka

‘Saya harus angkat bicara, untuk jutaan rakyat tertindas di Timur’ suara tegas itu lahir dari mulut Tan Malaka di Moskwa saat konferensi Komunis Internasional (Komintern). Tan Malaka adalah legenda hidup zaman pergerakan. Namanya terkenal di kalangan kaum nasionalis Indonesia. Karya-karyanya, seperti Naar de Republiek Indonesia (1925) dan Massa Actie (1926) menjadi bacaan di kalangan aktivis pergerakan tidak terkecuali buat Sukarno. Perbincangan tentangnya diselang-selingi bumbu beraroma mitos. Ia tokoh yang masyhur, pahlawan nasional yang sempat dilupakan selama bertahun-tahun dan kini namanya mulai disebut dimana-mana.

Wednesday, January 18, 2012

Faisal


Faisal kini muncul, kata ini seolah menjadi altenatif di tengah kesemrawutan. Ia maju sebagai calon gubernur DKI Jakarta. Bagi Faisal, politik adalah sebuah tugas sedih , berusaha menegakkan keadilan di dunia yang penuh dosa. Terjun ke politik bukanlah keinginan, tapi merupakan sesuatu hal yang tak terhindarkan, dan ini berlaku bagi seluruh intelektual publik - seseorang yang dengan tulisan dan ucapannya berbicara ke orang ramai, menjelaskan apa yang sebaiknya dan yang tak sebaiknya terjadi bagi kehidupan bersama.

Monday, August 29, 2011

Yang Hilang

Reformasi telah lewat, perubahan besar  itu terjadi 13 tahun yang lalu namun hingga kini masih menyisakan luka sejarah yang dalam terutama bagi mereka yang hilang, mungkin sebagian orang sudah lupa dengan Wiji Thukul, ia hilang dan tak pernah kembali, mungkin orang banyak sudah lupa akan kejadian itu, orang mungkin bahkan lupa ada nama itu, nama seorang yang diculik, terutama karena Wiji Thukul tak dikenal luas. Saya juga tak mengenalnya betul—dan memang tak harus mengenalnya betul.

Tuesday, August 16, 2011

Pram

Mungkin hampir  13 tahun yang lalu, nama Pramoedya Ananta Toer diucap dengan berbisik, di tangan rezim itu, Pram dihabisi, diberangus, dan dikebiri. Pram, satu satunya calon peraih nobel sastra dari Indonesia ini hilang selama 18 tahun, dia dipenjara oleh tiga rezim, Rezim Kolonialisme Belanda, Orde Lama, dan Orde Baru. Ia menjadi tahanan politik, merasakan dinginnya tembok Nusakambangan, dan menyandang gelar “Tahanan Politik” di Pulau Buru, semua itu tanpa keadilan, tanpa pengadilan.

Friday, August 12, 2011

Soe Hok Gie

Soe Hok Gie, saya dengar nama ini pertama kali pertengahan tahun 2008 dari perbincangan antara kakak saya dan temannya di beranda rumah kami. Tidak terlalu menarik, Soe Hok Gie, atau yang kemudian lebih terkenal dengan sapaan Gie bukanlah seorang tokoh “superstar” Republik macam  Bung Karno, Hatta, Sjahrir, Tan Malaka, H.O.S Tjokroaminoto, atau bahkan tokoh PKI Dipa Nusantara Aidit yang malang melintang di buku pelajaran sekolah. Gie tidak terlalu menarik bagi saya, dia kalah oleh zona nyaman yang saya miliki saat itu.