Pemilu
2014 kian dekat. Pertarungan politik bahkan sudah dimulai, paling tidak
pertarungan psikologis antar-elite politik. Partai – partai sudah menyusun
agenda. Sebagian telah siap. Sebagian lain masih perlu berkonsolidasi. Partai
mana yang paling berpeluang. Semua masih tanda tanya. Masing-masing memiliki
konstituen tradisionalnya sendiri-sendiri. Namun, peralihan suara masih
terbuka. Sejarah memang sarat dengan kejutan dan patahan.
Showing posts with label Indonesia. Show all posts
Showing posts with label Indonesia. Show all posts
Friday, May 23, 2014
Asian Miracle
Kurang dari satu tahun
lagi Indonesia akan mengikuti Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang merupakan
bentuk dari perdagangan dan persaingan bebas diantara negara – negara ASEAN.
Kesiapan pemerintah untuk mengikuti MEA masih dipertanyakan terutama terkait
dengan kesiapan persaingan dibeberapa bidang seperti kesehatan dan pariwisata,
dan juga yang tak kalah penting proteksi terhadap pengangguran agar terus bisa
bersaing dalam MEA.
Wednesday, May 14, 2014
Penentu Demokrasi Kita
Momen mendebarkan baru
saja usai, Komisi Pemilihan Umum telah mengumumkan bahwa pemenang Pemilu
Legislatif 2014 adalah PDI-Perjuangan dengan total suara 18,95%. Dalam suasana
menuju pendaftaran calon presiden pantaslah bagi kita untuk bertanya: apa yang
terjadi jika pemilu yang mahal ini tidak menghasilkan pemimpin yang kita
harapkan?
Sunday, October 14, 2012
Mengaktifkan Politik Akal Sehat
Pesimisme
menghantui kondisi demokrasi kita hari – hari belakangan ini. Dan republik
telah dikelola oleh politik akal miring. Hal ini karena politik tidak
diselenggarakan di ruang publik, tetapi ditransaksikan secara personal. Tukar
tambah kekuasaan berlangsung bukan atas dasar kalkulasi ideologis, kita tak
lagi melihat sekat ideologis antar partai, seolah – olah kini hanya ada satu
partai dengan berbagai cabang : cabang Demokrat, cabang Golkar, cabang PKS, dan
lain sebagainya. Padahal sesungguhnya politik adalah transaksi ide, yang
kemudian diucapkan sebagai ideologi guna melatih kecerdasan publik.
Friday, October 12, 2012
Refleksi Gerakan Mahasiswa
Postera crescam laude, saya akan
bekerja untuk generasi mendatang
(Semboyan Universitas Melbourne)
Indonesia seharusnya berterima kasih
kepada para mahasiswa dimasa lalu. Pada saat kondisi dan situasi masyarakat
mengalami keresahan sosial (social unrest) yang memuncak,
golongan mahasiswa yang sebelumnya “disia-siakan”, turun ke jalan untuk menuntut
perubahan pada penguasa. Hal itu menciptakan premis mayor bahwa kemunculan
gerakan mahasiswa ditandai dengan peristiwa sejarah tertentu, yang merupakan
muara dari berbagai macam permasalahan. Kemunculan pemuda angkatan 1908, 1928,
1945, 1966, 1974, 1978, 1990 dan 1998 mengiringi kelahiran sebuah konstruk
peristiwa historis tertentu yang menentukan perjalanan sejarah Indonesia.
Friday, February 3, 2012
Tan Malaka
‘Saya harus angkat bicara, untuk
jutaan rakyat tertindas di Timur’ suara tegas itu lahir dari mulut Tan Malaka
di Moskwa saat konferensi Komunis Internasional (Komintern). Tan Malaka adalah
legenda hidup zaman pergerakan. Namanya terkenal di kalangan kaum nasionalis
Indonesia. Karya-karyanya, seperti Naar de Republiek Indonesia (1925) dan
Massa Actie (1926) menjadi bacaan di kalangan aktivis pergerakan tidak
terkecuali buat Sukarno. Perbincangan tentangnya diselang-selingi bumbu
beraroma mitos. Ia tokoh yang masyhur, pahlawan nasional yang sempat dilupakan
selama bertahun-tahun dan kini namanya mulai disebut dimana-mana.
Wednesday, January 18, 2012
Faisal
Faisal kini muncul, kata ini
seolah menjadi altenatif di tengah kesemrawutan. Ia maju sebagai calon gubernur
DKI Jakarta. Bagi Faisal, politik adalah sebuah tugas sedih , berusaha
menegakkan keadilan di dunia yang penuh dosa. Terjun ke politik bukanlah
keinginan, tapi merupakan sesuatu hal yang tak terhindarkan, dan ini berlaku
bagi seluruh intelektual publik - seseorang yang dengan tulisan dan ucapannya
berbicara ke orang ramai, menjelaskan apa yang sebaiknya dan yang tak sebaiknya
terjadi bagi kehidupan bersama.
Sunday, November 20, 2011
Ketika Tak Ada Lagi Revolusi
Untuk para buruh di Papua, Jakarta, Palembang, dan seluruh pelosok Negeri. Kalian tidak sedang bermimpi, tapi justru tengah bangun dari mimpi buruk
Banyak sejumlah pemikir murung yang berbicara tentang manusia dan kehidupan, mereka berkata kini tak ada lagi harapan, manusia telah menjadi subyek. Kapitalisme telah merasuk kemana – mana pada abad ke-21 ini, segala lini kehidupan telah dirasuki ‘Sang Modal Besar’.
Monday, November 14, 2011
Globalisasi, Pancasila, dan Yang Lainnya
Kita sekarang hidup di zaman yang makin menyadari kemajuan teknologi. Lalu lintas global dibiarkan menembus garis perbatasan Nasional. Pertama – tama meluasnya informasi, lalu pergeseran nilai sosial, modernitas, kemudian kemajuan yang mempengaruhi ekonomi Negara. Globalisasi yang tak terbendung, dan memang tak bisa dibendung ini menghasilkan kontradiksi. Ia telah menjadi sebuah kehidupan sosial baru yang tidak selamanya baik dan memang tidak sepenuhnya buruk.
Thursday, November 10, 2011
Demokrasi
Demokrasi adalah anak kandung
dari reformasi, dia lahir dari proses persalinan yang sulit, dengan darah di
kampus Trisakti, Atmajaya, dan berbagai sudut jalan Republik. Demokrasi
melahirkan sebuah konstitusi yang mengatur kebebasan berpendapat, hak – hak individu
terjamin, proses pemilihan langsung presiden dan pergantian yang regular, dan berbagai hal
yang melepaskan kita dari para Opsir Revolusi yang menjadi diktatoral. Tapi,
setelah 12 tahun berjalan – mungkin tengah remaja, demokrasi mulai
dipertanyakan.
Wednesday, October 5, 2011
Pancasila Itu, Tidaklah Sakti
Selalu menarik
membicarakan Pancasila, sebuah ideologi bangsa kita yang katanya sakti ini.
Saya yang sejak lahir hidup di tanah tumpah darah ini tak pernah sekalipun
berfikir untuk tak terpaut dengan Pancasila atau lupa tentang Pancasila.
Pancasila hadir melalui teks, merajuk ke dalam tabula paling dalam, ia kekal
disana. Namun, beberapa hari lalu, dalam mata kuliah Bisnis dan Politik,
seorang asisten Dosen mengusik tabula itu, apa sebenarnya Pancasila itu ?
Pertanyaan ini tentu mengetuk, mengusik, dan selalu menarik untuk dijawab,
apalagi setelah itu kita, Indonesia, memperingati hari kesaktian Pancasila pada
1 Oktober.
Wednesday, September 28, 2011
Tanpa Label
“Komunis adalah Racun !” Begitu
kata sebagian teman mahasiswa saya, mereka
mengatakan andai saja bukan Pramoedya Ananta Toer yang dipenjara atau kurang
lebih 500 ribu orang lebih yang diduga Komunis atau Kiri yang dibunuh, maka
Pramoedya Ananta Toer lah yang akan menggebuk para penulis Manifesto Kebudayaan
atau kaum komunislah yang akan menghabisi mereka yang bukan komunis. Mereka
yang mengatakan hal seperti itu bukan lagi para antek orde baru, mereka bahkan
orang yang sangat kritis dan sadar akan kekejaman pemerintahan Orde Baru, inilah
yang sedikit mengusik saya.
Saturday, August 27, 2011
Yang Dulu Disembah
- - Kepada elite politik yang tengah memegang kekuasaan
Para elite politik yang tengah memegang kekuasaan, lihatlah: bangsa ini bukan sebuah dongeng.
Kita terdiri dari tubuh, jiwa, roh, tanah, dan air, dengan impian, fantasi, rasa kurang, bangga, hasrat punya harga diri, nafsu untuk jadi kaya dan bermartabat atau jadi orang sederhana saja. Kita manusia yang pandai mengekspresikan kebaikan hati, kepintaran, tapi juga ketololan dan kekejian. Kita menyimpan kekuatan otot dan juga rasa sakit dari cacingan sampai dengan flu burung. Kita bukan peri.
Sunday, August 21, 2011
Nasionalisme
Desember 1817, Thomas Matulessy, atau yang lebih flamboyan dengan sebutan Kapitan Pattimura, digantung di benteng Victoria, ia menggadaikan jiwanya untuk sebuah harapan : “Indonesia Merdeka”
Terkadang saya berpikir, apa gerangan yang ada dalam pikiran Kapitan Pattimura beberapa saat sebelum digantung. Kadang-kadang saya ingin membayangkan, ia menyebut nama ”Indonesia” di bibirnya, atau ”Indonesia merdeka”, tapi tentu saja ini satu imajinasi klise, dan sebab itu tiap kali muncul cepat-cepat saya stop. Bukan mustahil ia ketakutan di depan algojo pasukan pendudukan Belanda itu. Atau ia pasrah? Yang agaknya pasti, beberapa puluh menit, atau beberapa puluh detik kemudian, seluruh ketakutan (atau sikap pasrah, atau jangan-jangan kecongkakan yang tampil seperti keberanian) pun punah: Tali itu membekap lehernya. Jantung berhenti berdetak, ia roboh, tak akan pernah berjuang lagi.
Subscribe to:
Posts (Atom)