Thursday, November 10, 2011

Demokrasi

Demokrasi adalah anak kandung dari reformasi, dia lahir dari proses persalinan yang sulit, dengan darah di kampus Trisakti, Atmajaya, dan berbagai sudut jalan Republik. Demokrasi melahirkan sebuah konstitusi yang mengatur kebebasan berpendapat, hak – hak individu terjamin, proses pemilihan langsung presiden  dan pergantian yang regular, dan berbagai hal yang melepaskan kita dari para Opsir Revolusi yang menjadi diktatoral. Tapi, setelah 12 tahun berjalan – mungkin tengah remaja, demokrasi mulai dipertanyakan.

Sunday, October 23, 2011

Sebuah Nota Pendek

Ada sebuah kecurigaan atau rasa was was, ketika golongan hadir menjadi momok, ketika kebenaran menjadi sebuah pemburuan yang sulit. Kita curiga setiap ada pembicaraan, perkumpulan, atau mungkin pergerakan “Jangan – jangan itu organisasinya si Anu, jangan – jangan si Anu mau jadi Presiden BEM, jangan – jangan si Anu . . . . . ”

Wednesday, October 5, 2011

Pancasila Itu, Tidaklah Sakti

Selalu menarik membicarakan Pancasila, sebuah ideologi bangsa kita yang katanya sakti ini. Saya yang sejak lahir hidup di tanah tumpah darah ini tak pernah sekalipun berfikir untuk tak terpaut dengan Pancasila atau lupa tentang Pancasila. Pancasila hadir melalui teks, merajuk ke dalam tabula paling dalam, ia kekal disana. Namun, beberapa hari lalu, dalam mata kuliah Bisnis dan Politik, seorang asisten Dosen mengusik tabula itu, apa sebenarnya Pancasila itu ? Pertanyaan ini tentu mengetuk, mengusik, dan selalu menarik untuk dijawab, apalagi setelah itu kita, Indonesia, memperingati hari kesaktian Pancasila pada  1 Oktober.

Wednesday, September 28, 2011

Tanpa Label


“Komunis adalah Racun !” Begitu kata sebagian teman mahasiswa saya, mereka mengatakan andai saja bukan Pramoedya Ananta Toer yang dipenjara atau kurang lebih 500 ribu orang lebih yang diduga Komunis atau Kiri yang dibunuh, maka Pramoedya Ananta Toer lah yang akan menggebuk para penulis Manifesto Kebudayaan atau kaum komunislah yang akan menghabisi mereka yang bukan komunis. Mereka yang mengatakan hal seperti itu bukan lagi para antek orde baru, mereka bahkan orang yang sangat kritis dan sadar akan kekejaman pemerintahan Orde Baru, inilah yang sedikit mengusik saya.

Lembing


Aku mulai tidak mengerti tentang kata

Kata yang mengandung  dusta & fitnah
Kata telah berubah menjadi jerat yang menggebuk
Hari ini . . . 
Adalah hari dimana kata telah menjadi lembing


Dan ketika itu terjadi
Gelap akan berganti kelam
Aku tak takut gelap,  karena itu bagian dari hidup
Tapi aku takut kelam
Kelam adalah memandang gelap yg mutlak
kelam adalah menyerah, kelam adalah putus asa, kelam adalah hilang, kelam adalah jera


Dan saat kata telah menjadi lembing
Kita membekukan segala yang mungkin
Kita telah gagal memburu arti karena kita takut pada ketidakpastian


Semarang, 20 September 2011